Minggu, 01 April 2012

Bebas Finansial

Banyak orang mengira dengan memperoleh penghasilan yang tinggi, mendapat warisan milyaran rupiah, mendapat lotere, dsb adalah bebas secara finansial yang dimaksud.

Meski tidak sepenuhnya salah, argumen itu pun tidak sepenuhnya benar. Sebab bebas secara finansial tidak ditentukan oleh besaran penghasilan yang anda dapatkan. Akan tetapi bagaimana kita mengatur besaran pengeluaran tidak melebihi besaran penghasilan. Memang tentu saja untuk mencapai tingkat bebas secara finansial kedua variabel tersebut haruslah terpenuhi. Sebab bagaimana mungkin mengatur variabel pengeluaran supaya lebih kecil kalau variabel penghasilannya adalah nol. Kecuali jika anda memutuskan untuk jadi petapa dan hidup di hutan misalnya.

Jadi langkah awal untuk bebas secara finansial adalah mempunyai penghasilan. Setelah itu barulah kita mengatur besaran pengeluaran untuk disesuaikan dengan besaran penghasilan. Pada dasarnya selama kita bisa menempatkan besaran pengeluaran lebih kecil dari pengeluaran maka saat itu pula kita sudah bebas secara finansial, berapapun angkanya. Pepatah kuno mengatakan “sedikit harus mencukupi, banyak harus bersisa”.

Dengan mengubah paradigma tersebut maka sesungguhnya pencapaian bebas secara finansial tidak selalu harus dicapai dengan mempunyai penghasilan setinggi langit. Karena justru akibat salah paradigma inilah banyak orang yang dalam rangka mengejar kebebasan secara finansial, alih-alih mencapai tujuannya malah terjebak dalam lingkaran setan menjadi budak finansial.

Sekarang bayangkan, orang bekerja dengan tujuan untuk mendapatkan penghasilan dan mencapai kebebasan finansialnya. Karena situasi ekonomi, faktor inflasi, moneter dan sebagainya orang dituntut untuk bekerja semakin keras. Sebab meskipun secara nominal gaji seorang pegawai naik dari tahun ke tahun, sesungguhnya nilai daya belinya hampir paralel dengan kenaikan harga-harga barang. Kecuali tentu saja jika mendapat promosi istimewa. Dan patut diingat pula semakin tinggi jabatan sesorang maka semakin banyak waktu yang harus diabdikan untuk pekerjaannya. Akibatnya adalah semakin berkurang pula waktu yang dimilikinya untuk dinikmati bersama keluarga dan lingkungannya. Sesuatu yang sebenarnya adalah tujuan utama seseorang untuk mencapai kebebasan secara finansial.

Tapi jangan pula dikira seseorang dengan penghasilan tinggi atau memiliki beberapa pabrik sekalipun sudah bebas secara finansial. Ketika keinginan untuk menumpuk uang sebanyak mungkin masih membebani pikirannya, membuatnya bekerja gila-gilaan dan tidak punya waktu luang baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya, sebenarnya dia belum bebas secara finansial. Mungkin ilustrasi yang paling tepat untuk menggambarkan ini adalah Paman Gober dalam kartun Disney. Ironis memang, banyak uang berlimpah tapi hatinya merasa miskin, bahkan untuk belanja keperluannya sekalipun secara layak.

Jadi sekali lagi, harus diingat untuk bebas secara finansial tidak harus dicapai dengan penghasilan tinggi dan juga tidak dengan cara menjadi pelit terhadap diri sendiri. Sebab selama kita bisa mengatur besaran pengeluaran dibawah penghasilan, jangan ragu untuk memanjakan diri dan keluarga untuk belanja sesuatu yang kita inginkan. Termasuk berekreasi tentunya.

Karenanya, kini orang makin sadar untuk tidak menghabiskan waktu untuk bekerja keras seumur hidup, jauh dari keluarga dan lingkungan, untuk akhirnya ditendang ketika usia sudah tidak produktif lagi. Paradigma yang kini dipakai orang bukan lagi Work Hard, tapi Work Smart! Menciptakan penghasilan pasif (passive income) adalah salah satunya. Sebab dengan mempunyai penghasilan pasif maka kita relatif mempunyai waktu lebih untuk digunakan bersama keluarga dan membuat diri kita semakin bermanfaat bagi lingkungan. Tidak peduli berapa besar penghasilan itu, akan jauh lebih berarti jika dibandingkan dengan penghasilan tinggi yang harus ditukar dengan hilangnya waktu kita bersama keluarga.

Jadi kini pilihan ada di tangan anda. Mau bekerja keras seumur hidup atau mulai memikirkan untuk mencari alternatif lain, untuk bisa bebas secara finansial.

Kinerja Komputasi dengan Parallel Processing

Kinerja Komputasi dengan Parallel Processing

Pada tulisan kali ini saya akan mencoba membahas tentang kinerja komputasi dengan parallel processing. Dimana tema tulisan ini merupakan tugas kuliah saya.:)
Sebelum membahas secara keseluruhan dari tema yang saya angkat, ada baiknya kita mengetahui apa itu parallel processing.

Parallel Processing (Pengolahan Parallel), menurut Wikipedia adalah kemampuan untuk melaksanakan beberapa operasi atau tugas secara bersamaan. Penggunaan lebih dari satu CPU atau prosesor untuk menjalankan sebuah program atau beberapa komputasi secara simultan. Idealnya, parallel processing membuat program berjalan lebih cepat karena ada mesin lebih (CPU atau core) yang menjalankannya.
Parallel Processing berbeda dengan multitasking, yaitu jika multitasking menggunakan satu CPU mengangani atau mengeksekusi beberapa program sekaligus, sedangkan parallel processing dapat disebut juga dengan istilah parallel computing karena menggunakan lebih dari satu CPU.
Dari pengertian yang dibahas diatas tentang Parallel Processing, maka dapat disimpulkan bahwa parallel processing  mempersingkat waktu eksekusi suatu program karena program tersebut akan dibagi menjadi bagian yang lebih kecil  agar dapat dikerjakan pada masing-masing prosesor(CPU) secara bersamaan.


Parallel Komputasi adalah melakukan perhitungan komputasi dengan menggunakan 2 atau lebih CPU/Processor dalam suatu komputer yang sama atau komputer yang berbeda dimana dalam hal ini setiap instruksi dibagi kedalam beberapa instruksi kemudian dikirim ke processor yang terlibat komputasi dan dilakukan secara bersamaan. Atau arti dalam kata lain adalah sebagai sebuah proses untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang memerlukan infrastuktur mesin paralel yang terdiri dari banyak komputer dengan pemrosesan secara parallel dan dihubungkan melalui sebuah jaringan. Dalam hal pemrosesan komputasi yaitu sesuai dengan tujuan parallel processing maka dapat dipastikan bahwa parallel processing merupakan salah satu upaya untuk mempercepat proses komputasi dalam memecahkan suatu permasalahan dengan cara membagai-bagi permasalahan menjadi bagian yang lebih kecil. Untuk proses pembagian proses komputasi tersebut dilakukan oleh suatu software yang betugas untuk mengatur komputasi dalam hal makalah ini akan digunakanMessage Parsing Interface (MPI).
Berikut ini adalah gambar perbedaan antara komputasi tunggal dengan parallel komputasi :
a.         Komputasi Tunggal/serial
b.         Komputasi Parallel

Kesimpulan :
Banyak perkembangan-perkembangan baru dalam arsitektur komputer yang didasarkan pada konsep pemrosesan paralel. Pemrosesan paralel dalam sebuah komputer dapat didefinisikan sebagai pelaksanaan instruksi-instruksi secara bersamaan waktunya. Hal ini dapat menyebabkan pelaksanaan kejadian-kejadian dalam interval waktu yang sama, dalam waktu yang bersamaan atau dalam rentang waktu yang saling tumpang tindih.
Sekalipun didukung oleh teknologi prosesor yang berkembang sangat pesat, komputer sekuensial tetap akan mengalami keterbatasan dalam hal kecepatan pemrosesannya. Hal ini menyebabkan lahirnya konsep keparalelan (parallelism) untuk menangani masalah dan aplikasi yang membutuhkan kecepatan pemrosesan yang sangat tinggi, seperti misalnya prakiraan cuaca, simulasi pada reaksi kimia, perhitungan aerodinamika dan lain-lain.
Konsep keparalelan itu sendiri dapat ditinjau dari aspek design mesin paralel, perkembangan bahasa pemrograman paralel atau dari aspek pembangunan dan analisis algoritma paralel. Algoritma paralel itu sendiri lebih banyak difokuskan kepada algoritma untuk menyelesaikan masalah numerik, karena masalah numerik merupakan salah satu masalah yang memerlukan kecepatan komputasi yang sangat tinggi.


Sumber:
http://en.wikipedia.org/Parallel_processing
http://www.gudangmateri.com/2009/12/pemrosesan-paralel.html